Kalau mendengar kata “biaya kuliah anak”, apa yang terlintas di pikiran Anda? Bagi sebagian orang tua, langsung terbayang angka yang bikin keringat dingin. Bagi yang lain, masih terasa jauh — “kan anak saya baru SD, nanti saja dipikirkan.” Padahal justru di sinilah jebakannya: biaya pendidikan cenderung naik setiap tahun, dan semakin lama menunda, semakin jauh target yang harus dikejar.
Menyiapkan dana pendidikan itu seperti menanam pohon. Pohon yang ditanam sepuluh tahun lalu hari ini sudah rindang dan berbuah. Pohon yang baru ditanam tahun depan? Masih butuh waktu lama untuk tumbuh. Waktu adalah “pupuk” terbaik untuk dana pendidikan anak Anda.
Langkah 1: Tentukan Dulu Targetnya
Anda tidak bisa menabung untuk sesuatu yang tidak jelas bentuknya. Mulailah dengan menjawab tiga pertanyaan sederhana:
- Jenjang apa? Sampai S1 saja, atau disiapkan sampai S2?
- Di mana? Universitas negeri di kota sendiri, swasta favorit, atau kuliah di luar negeri?
- Kapan? Berapa tahun lagi anak Anda masuk kuliah?
Contoh sederhana: hari ini biaya kuliah satu semester di kampus swasta favorit katakanlah Rp15 juta. Empat tahun kuliah berarti 8 semester. Itu baru biaya kuliahnya saja — belum termasuk kos, makan, transportasi, dan buku selama empat tahun. Kalau dijumlah, angkanya bisa dua sampai tiga kali lipat dari biaya kuliahnya saja. Nah, sekarang bayangkan angka itu naik setiap tahun sampai anak Anda kuliah nanti.
Tidak perlu hitung sampai presisi per rupiah. Yang penting Anda punya angka target kasar — karena target yang kasar tapi jelas jauh lebih baik daripada tidak punya target sama sekali.
Langkah 2: Mulai Sedini Mungkin, Sisihkan Rutin
Setelah target ketahuan, bagi dengan sisa waktu yang ada. Misalkan target Anda Rp400 juta dan anak baru masuk kuliah 12 tahun lagi — artinya Anda perlu menyisihkan sekitar Rp2,8 juta per bulan (belum termasuk potensi pertumbuhan dana).
Kuncinya ada dua kata: rutin dan otomatis. Sisihkan di awal bulan, begitu penghasilan masuk — bukan dari sisa akhir bulan yang sering kali tidak bersisa. Anggap setoran dana pendidikan sama wajibnya dengan membayar tagihan listrik.
Langkah 3: Pisahkan dari Dana Lain
Kesalahan klasik: dana pendidikan dicampur dengan tabungan umum atau dana darurat. Akibatnya? Saat ada kebutuhan mendadak — HP rusak, ada promo liburan, renovasi rumah — dana pendidikan ikut “terpakai” dan tidak pernah kembali.
Solusinya sederhana: beri “nama” pada dananya. Bisa rekening terpisah, bisa instrumen khusus. Yang penting, secara psikologis Anda menganggap dana itu sudah “bukan milik Anda” sampai tiba waktunya dipakai untuk kuliah anak.
Langkah 4: Lindungi Rencananya dengan Proteksi Penghasilan
Ini langkah yang paling sering dilupakan — padahal paling penting. Tanyakan pada diri Anda dengan jujur: kalau besok saya sakit kritis dan tidak bisa bekerja, atau saya meninggal dunia, rencana pendidikan anak saya tetap jalan?
Tabungan dan investasi hanya bekerja kalau Anda sehat dan terus menyetor. Kalau pencari nafkah berhenti berpenghasilan di tengah jalan, target Rp400 juta tadi bisa berhenti di Rp40 juta. Di sinilah asuransi jiwa berperan sebagai “payung”: ia memastikan bahwa apa pun yang terjadi pada Anda, dana pendidikan anak tetap tersedia sesuai rencana.
Banyak nasabah saya menggabungkan setoran rutin untuk dana pendidikan dengan asuransi jiwa — sehingga ada dua lapis perlindungan: dananya terkumpul selama sehat, dan targetnya tetap aman kalau terjadi risiko pada pencari nafkah.
Jujur Saja: Tidak Ada Jalan Pintas
Saya tidak akan bilang ada cara ajaib melipatgandakan dana pendidikan dalam sekejap. Setiap instrumen punya kelebihan dan risikonya masing-masing, dan tidak ada yang bisa menjamin hasil pasti. Yang bisa Anda kontrol adalah: mulai lebih awal, setor rutin, pisahkan dananya, dan lindungi rencananya. Empat hal sederhana ini, kalau dijalankan konsisten, hasilnya jauh mengalahkan strategi rumit yang tidak pernah dimulai.
Mau saya bantu hitungkan kebutuhan dana pendidikan anak Anda — targetnya berapa, harus sisihkan berapa per bulan, dan proteksi seperti apa yang pas untuk melindunginya? Konsultasi gratis, tanpa kewajiban apa pun.
WhatsApp: 08123385016
Syarat dan ketentuan mengacu pada Polis serta Ringkasan Informasi Produk dan Layanan (RIPLAY). PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).











